Kepala Sekolah Dasar Inpres Ndora, Nagekeo Yang ditikam mati oleh salah satu orang tua murid di sekolahnya pada 8 Juni 2021


            Ibu DELFINA   AZI  S.PD  memang  kita tidak saling kenal. Namun, karena sejak kemarin dan hari ini saya disajikan tulisan tentang Ibu Delfina Azi yang adalah seorang  Sekolah Dasar dan menjadi korban kebrutalan dan kebiadaban  seseorang yang adalah orang tua murid.

    Ibu Delfina, mungkin sejak kecil di Desa Gero sebuah Desa di sebelah Utara Aimali, Boawae-Flores, Ibu bercita-cita menjadi Guru. Cita2 itu sangat bagus, cita2 yang  indah dan mulia. Saya juga dahulu bercita-cita yang sama. Hari ini saya  bekerja dan sambil menjadi guru untuk ikut berbagi ilmu bagi anak-anak muda yang belajar di bidang studi dan kerja saya. 

        Karena Guru itu adalah sebuah pekerjaan mulia, guru itu menjadikan anak-anak  seperti saya dulu yang tidak mengenal bahasa Indonesia dapat berbicara bahasa Indonesia. Anak- anak  yang tidak tahu berhitung menjadi pintar berhitung. Anak-anak yang tidak tahu mencuci muka dan mencuci kaki menjadi pintar bersahabat dengan air, sabun dan lainnya, menjadi pintar memakai celana, baju, sendal dan sepatu, menjadi pintar seperti anak-anak lain di kota-kota kabupaten dan kota-kota besar pada umumnya. Mungkin Ibu punya cita-cita menjadikan banyak anak-anak  Ndora dan anak-anak  di desa tetangga agar dapat menjadi anak yang baik dan pandai yang dapat melanjutkan pendidikan mereka sehingga kelak dapat membantu diri mereka sendiri dan orang lain.

        Ibu Delfina, kami tidak mengetahui  secara utuh persoalan yang menyebabkan nyawa Ibu melayang. Kami membaca sepotong sepotong beritanya. Kami tidak mengetahui siapa yang menyuruh anak murid itu pulang pada hari ujian itu? Bahasa  apa yang disampaikan kepada ayah dan Ibunya di pondok atau di rumah kebun atau di rumah di Kampong Adat Ulu Pulu Ndora pada hari Selasa 8 Juni hari kelam untuk Ibu Guru, untuk keluarga besar Gero dan untuk Ndora serta  untuk dunia pendidikan? 

    Kami  tidak tahu mengapa si pembunuh itu datang dengan membawa pisau, bukan kata- kata  jujur memelas mengatakan bahwa dia belum bisa bayar uang sekolah, misalnya? Mengapa dia datang dengan persiapan untuk membunuh seseorang? Apakah anak itu atau setiap anak diingatkan setiap minggu atau di setiap bulan bahwa dia atau mereka belum membayar uang sekolah, tidak menunggu sampai hari ujian? Apakah sekolah Ibu mengingatkan anak-anak pakai surat, atau melalui pesan lisan atau dengan cara marah-marah? Kami tidak tahu sampai di mana peran Komite Sekolah dalam kasus anak anak kita yang mana orang tuanya tidak dapat membayar uang sekolah? Apakah orang tua murid pernah didatangi untuk mengetahui kesulitan apa yang dihadapi sehingga dia atau mereka mengalami kesulitan untuk membayar uang sekolah anaknya atau anak mereka? Masih banyak dan banyak lagi pertanyaan yang saya dan kami2 di mana-mana ingin ajukan, namun sayang Ibu Delfina  Azi tidak dapat lagi memberikan jawaban, karena Ibu telah terbaring kaku di dalam liang kubur, dan arwah Ibu telah melakukan perjalanan panjang  menghadap Sang Pencipta. 

Pembunuh kejam, sadis, & Tidak Beradab

Ibu Delfina,  Azi  saya akan mengenang peristiwa pembunuhan ini sebagai pembunuhan yang paling  kejam, sadis dan tidak beradab karena:

  1. Pembunuh menghilangkan nyawa Ibu Guru seorang wanita yang tidak dapat melawan pembunuhnya.
  2. Pembunuh telah merampas  masa depan anaknya sendiri dan keturunannya untuk bersekolah di sana paling tidak untuk rentang waktu tertentu.
  3. Pembunuh adalah seorang penakut,  cengeng karena yang dibunuhnya  adalah seorang wanita lemah.
  4. Pembunuh  adalah manusia berhati iblis yang tidak mempedulikan tatanan kehidupan beragama, bermasyarakat adat dan hukum.
  5. Pembunuh  adalah manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap pendidikan dan masa depan anaknya serta keluarga besarnya, dan anak- anak  didik karena dia  lebih suka masuk penjara.

Comments

Popular posts from this blog

Analisis Swot Usaha Kain Tenun Ikat Sumba Pewarna Alami

THE CATS, Analisis Swot Perusahaan Makanan Kucing

Kebesaran Jiwa, 13 :54-58